2013/05/23

Korespondensi dengan Pagi

(suatu pagi, dimana tak sengaja terjaga tanpa ada tendensi apa-apa)

Rahmi : (dengan mental SKSD, perlahan bertanya pada pagi ) Hai pagi, apa kabarmu hari ini?

Pagi : Ah, aku baik. Dan akan selalu baik. Kemana saja kamu selama ini? Tidak rindukah terjaga bersamaku?

Rahmi : Oh, sebenarnya embunmu, udaramu, sinarmu selalu membawa aku dalam rindu yang simultan. Kamu stimulus pertama yang selalu ingin aku cicip di awal hari.

Pagi : Lalu? Kelihatannya kau justru lebih mesra dengan malam, dan melewatkan aku hingga siang menjelang.

Rahmi : Pagi, kau hanya iri. Dan tak tahu manisnya mimpi.

(lalu Rahmi membasuh diri, berharap agar tidak tidur lagi)

2013/05/22

semu.

Ini merupakan postingan di tengah hektik kegiatan perkuliahan semester 4.

Saya tidak tahu apa yang terjadi, hanya saja dua minggu menjelang ujian akhir semester entah mengapa semuanya jadi terasa semu.

Segala kesibukan ini membuat saya semakin apatis, semakin masa bodoh dengan apa yang terjadi.

Sebaris pertanyaan, "emang beneran kamu mau jadi arsitek?" benar-benar membuat semua mindset di dalam batok bernama kepala ini porak-poranda.

Kalau begitu, untuk apa selama ini kita kuliah, asistensi, absensi, pesentasi, apalagi kka?

Apa sedangkal untuk mencari digit indeks prestasikah selama ini kita asistensi?

Untuk pencitraan angkatankah kita berdarah-darah melaksanakan kka?

Atau untuk legalisasi ujiankah kita setiap minggu mengisi kolom absensi lalu numpang tidur, numpang ngenet, numpang ngecas, numpang makan, atau numpang gosip dalam kelas?

Berilah saya alasan kenapa saya harus mengerjakan tugas yang menekan jam tidur hingga ke titik minimum hampir di setiap malam.

Seorang dosen pernah bercanda, kalau esensi dari empat tahun kuliah adalah demi mencari ijazah supaya punya muka di depan calon mertua. Ah bisa saja, bukannya setiap makhluk berkelamin memang berhak untuk kawin?

Mungkin beberapa sahabat ada yang tidak munafik, mereka mengakui semua ini untuk mencari hiasan S.T. di belakang nama mereka dimana (mereka yakin) hal ini akan membuat orangtuanya menjadi bangga padanya.

Tapi terkadang saya bingung dengan maksud "kebanggaan orangtua" itu seperti apa. Apa setelah bilang "Ayah dan Ibu bangga sama kamu, nak" lantas mereka akan memamerkan transkrip nilai kita ke para tetangga di sebelah rumah, ke mertuanya yang jauh disana, ke teman-temannya saat reunian sekolah, kepada dunia di dalam jejaring sosialnya?

Ah, bagaimanapun toh segala hak dan kewajiban akademik yang kita jalani ada karena buah kerja keras mereka juga. Bukannya mereka bekerja untuk membuat kita siap menghadapi dunia, setelah itu giliran kita yang bekerja untuk anak-anak kita kelak seperti yang mereka jalani saat ini? Lalu anak-anak kita melakukan hal yang sama untuk cucu-cucu kita, dan cucu-cucu kita untuk cicit-cicit kita, dan seterusnya dan seterusnya......

Roda macam inilah yang menjadi penggerak orangtua memberikan apapun yang terbaik untuk anak mereka. Yah, pada akhirnya para ayah ibu memang layak (juga ingin) merasa bangga, merasa kerja keras selama ini setimpal dengan hasilnya, kita - anak mereka. Hingga ada label "tahu diri" di setiap benak para anak untuk membuat orangtuanya bangga, membalas mereka dengan melakukan hal yang "terbaik" pun menjadi fardlu ain' hukumnya.

Apakah yang "terbaik" haruslah berupa titel S.T. di belakang nama kita?

Asumsikanlah begitu.

Tapi apa kualitas S.T. yang kelak nangkring di belakang nama kita akan sesuai dengan kualitas Sarjana Teknik yang seharusnya?

Apa rela S.T. yang kita raih berasal dari presensi-presensi kopong hasil titip absen, atau dari laporan-laporan ctrl+C dan ctrl+V, atau dari tugas-tugas setengah hati dengan presentasi-presentasi tanpa arti?

Apa harus untuk meraih S.T. kita mengikuti rutinitas-rutinitas yang itu itu saja, melakukan kegiatan yang itu-itu saja, memikirkan hal-hal yang didiktekan oleh dosen-dosen kita?

Tanpa tahu hakikat dari ilmu yang kita dalami. Dan tertekan dengan berbagai ekspektasi. Apa yang salah dari sistem akademik macam ini?

Kebanggaan macam apa yang ingin kau berikan pada orang tuamu, Nak?

Saya menjadi malas dan semakin malas untuk mencari tahu, menjadi malas untuk melakukan ini dan itu, menjadi malas untuk menyadari betapa terbuangnya waktu.

Terakhir, saya malas untuk menjadi sok peduli pada tetek bengek tak tentu ini.

Awan hitam ini semakin menggelayut dan bertambah besar di dalam benak saya. Mungkin saya belum pernah seapatis ini terhadap masa depan.

Tinggal satu keyakinan yang ada, hanya kepada Nya...


(dibikin saat hujan di Studio Arsitektur 2 sambil denger R.E.M - Imitation of Life)





2013/05/20

Al - Fatihah


بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ (١
In the name of Allah, the Beneficent, the Merciful (1)
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (٢
Praise be to Allah, Lord of the Worlds, (2)
ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ (٣
The Beneficent, the Merciful. (3)
مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ (٤
Owner of the Day of Judgment, (4)
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ (٥
Thee (alone) we worship; Thee (alone) we ask for help. (5)
ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٲطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ (٦
Show us the straight path, (6)
صِرَٲطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ (٧
The path of those whom Thou hast favoured. Not (the path) of those who earn Thine anger nor of those who go astray. (7)

2013/04/14

feels like

"Dan mereka berani berkata bahwa semua adalah manusia super."

2013/04/13

Surat Cinta Soe Hok Gie - Catatan Seorang Demonstran (1983)




Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu.
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mendalawangi.

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya,
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.


Mari sini, sayangku....
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa


Soe Hok Gie
[Selasa, 11 November 1969]

2013/03/26

simsimi

jadi hasil kecelakaan kepoin simsimi adalah aji pacaran sama hana nur afiatni, tapi hana nur afiatni tuh calon istrinya greyson chance, tapi ternyata greyson chance itu udah jadi suami aprilia wulandari, nah dibalik itu semua aprilia wulandari masih pacaran sama kak dimas, dan kak dimas juga masih pacaran sama utet. nah si utet ini orangnya cantik, tapi sayang juteknya kaya ibu tiri.  

2013/03/18

Tujuan Kemana?

Jadi ceritanya kita bertemu hampir setiap pagi di kursi shelter bis.

Sadar atau engga, di setiap pagi itu juga mata kita saling bertemu.

Dan inilah pekerjaan paling sederhana sekaligus paling rumit untuk dilakukan, saling bertatapan.

Beberapa detik kemudian, senyum kamu memaksa otot bibir ini berolahraga pagi hari untuk membalas ramah tamah kamu.

Dan setiap kita naik dari shelter yang sama, entah kenapa kitapun turun di shelter yang sama.

Itu di pagi hari.

Dan sore ini kita bertemu di shelter yang berbeda, turun dari bis yang berbeda, dan pada waktu yang tidak biasanya.

Tapi sialnya senyum itu masih sama, senyum yang memaksa saya mencoba ramah.

Dan kemudian kita berjalan beriringan, di sore ini.

Di moda transportasi paling sederhana yang pernah ada, jalan kaki.

Di sore ini.

Setelah melewati pagi-pagi sebelumnya.

Kita berkenalan.