2016/10/15

Pendakian Papandayan [Agustus 2016] - Terjebak Kapitalis.





Postingan ini kebetulan saya tulis sembari nonton talkshow Sarah Sechan di televisi. Kebetulan, karena - seperti yang kita tau - siang hari di UHF gak ada tontonan lain yang menarik untuk disimak. Sebagai bagian dari intro, di sana Teh Sarah bertanya sama pemirsa,

"Hal apa sih yang kalian syukuri seminggu ke belakang, hingga kalian semangat menghadapi hari Senin?"

Ingin rasanya membalas, "Alhamdullilah, Endonesa parantos merdeka salami 71 taun, Teh. Sami sareng yuswa aki abi.", sungguh jawaban nasionalis, merah putih, dan keluarga cemara sekali. Tapi, pada kenyataanya ya kondisi negara kita mah gini-gini aja, gak signifikan progressnya, meski bukan berarti tak patut untuk disyukuri.

Jadi, jawaban yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan Teteh Sarah versi saya adalah, "Bisa bersua kembali dengan pegunungan." Uwuwuwuwuwuf!

Terakhir kedinginan gara-gara iklim gunung adalah pertengahan 2014, saat itu berlima bareng anak anak gagal KKN nanjak ke Merbabu. It's a long time ago, bahkan saya lupa bulan apa itu kejadiannya berlangsung. Bistu kebanyakan bikin rencana tanpa dapat menciptakan kesempatan, ya jadinya semua pendakian mentok-mentok cuman jadi wacana.

Hingga akhirnya, di Agustus 2016, pas kepala lagi mumet-mumetnya sama proses rekrutmen kerja, mana klien gak bayar-bayar honor, plus larangan buat ambil kerja freelance lagi #malahcurhat, ada seorang Mamas yang mendadak ngajakin nanjak. Bingung? Iya. Curiga? Hemhem. Waspada? Harus. Excited? Pasti!

Awalnya si belio ini mau nanjak ke Rinjani, tapi berhubung Rinjani lagi batuk-batuk dan sepertinya hubungan belio dengan ceweknya di Mataram lagi bermasalah, tabungan pendakian doi dialihanggarankan untuk sepatu impor bermerek Berghaus, tapi tetep sih nyari yang diskonan 50%. Jadi, dalam rangka mengamalkan poin ke lima dari Dasa Dharma Pramuka, saya rela menolong dan tabah menemani kekecewaannya gagal pacaran naik Rinjani 2016.

Rencana pertama sih Masnya ngajakin ke Merbabu, treknya sudah dipahami plus mudah dijangkau dari Jogja. Apalagi kalo bisa ngejar upacara tanggal 17 Agustus di Kenteng Songo kenya keren banget. Tapi berhubung posisi saya lagi di Tasik, dan saya anaknya mageran, kalo bisa sih kita nanjak gunung yang ada di Jawa Barat ajadeh. Dan jatuhlah pilihan kepada Gunung Papandayan. Kenapa? Ada beberapa alasan sih,

  1. Kan saya mageran yah, nah ini gunung lokasinya gak terlalu jauh dari Tasik. Sip lah rasa apel.
  2. Treknya gak begitu berat, cucok lah buat saya yang udah lupa caranya nanjak.
  3. Pemandangan sama vegetasinya gak monoton. Ibarat nonton drama 5 babak, ada aja klimaksnya.
  4. Ada sumber air di basecamp.
  5. Jangankan sumber air. Warung, jamban berbayar, trek motor, ampe satpam aja ada di atas.

Tapi alasan sebenarnyah saya pingin naik Papandayan adalah...........


milkyway!

Thanks @aMrazing, skill fotografi kamu bikin saya kebelet pingin ke Papandayan sedari bulan Mei.

Singkat cerita, berhubung Masnya dapet cuti tanggal 18-19 Agustus kami memutuskan pendakian hari Kamis tanggal 18 aja. Soalnya kalo tanggal 17 atau 19, takutnya jalur pendakian penuh sesyak manusya. Agar postingan ini sedap dipandang nikmat dibaca seperti laporan pendakian pada umumnya, selanjutnya tulisan akan berbentuk list berdasarkan waktu kejadian perkara sahaja yah. Leggo!

_______________________________________________________________________


(H1) 07.00 PAGI

Berhubung persiapan saya masih nol saat Masnya tiba di Tasik malam sebelumnya, rencana yang harusnya dimulai semenjak jam 6 pagi mesti rela agak ngaret buat sewa barang dulu ke daerah Kalangsari. Buat yang berencana memulai pendakian dari Tasik juga, mungkin Malindo Outdoor punya koleksi peralatan nanjak yang keitung lengkap di Priangan Timur #promogratis #anakendorse #ternyatamasihrelasi. Di sini kita sewa satu tenda sama satu carrier.

Sepulang sewa barang, barulah saya packing segala ube rampe pendakian dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Pake sepatu, salim sama Bapak, dan cabs!

(H1) 09.00 PAGI

Dari rumah menuju Camp David, tentu tidak bisa diraih hanya dengan satu moda transportasi. Pertama, kita naik beus (iya, b-e-u-s) arah Cineam, turun di bunderan Monumen Hazet, lalu naik angkot ke Singaparna. Di Singaparna turun di terminalnya, di sini agak muter-muter dulu nyari beus Karunia bakti jurusan Garut. Pertama nemu yang eksekutip (ya, pake p) jurusan Kampung Rambutan lewat Garut, tapi niat baik kita menyejahterakan Mamangnya malah ditolak, apakah penampakan kita tidak meyakinkan buat naik beus eksekutip? Entahlah, sampai sekarang masih misteri. Tapi yasudahlah, kita cari aja beus lainnya saja. Ternyata di belakang beus eksekutip tadi ada sesosok beus Karunia Bakti tidak eksekutip. Meski tidak eksekutip, paling tidak dia mau mengangkut kami yang apa adanya ini :')

Apaan 2 jam 14 menit. Kamu tidak menghitung durasi angkot ngetem, Google!
Sebenernya bisa sih naik Elf (sungguh, ditulis dengan ef, dibaca dengan ep). Tapi menurut pengalaman, elf dari Tasik ke Garut kebanyakan ngetemnya daripada jalannya. Gak cocok sama kebutuhan kami yang kepingin ngejar waktu.

Tiba di Kabupaten Garut, kami turun di Perempatan Sukadana, sambung naik angkot yang ke arah Maktal. Nah, dari maktal ada banyak banget opsi menuju Cisurupan, ada angkot, elf, angdes, ataupun beus. Kebetulan kami ketemunya sama angkot jadi capcuslah kita.

(H1) 13.15 SIANG

Seturun dari angkot di Cisurupan, kami agak kaget. Soalnya mamang ojek udah berebut aja nyamperin kita sambil nanya mau ke mana. Sangking kagetnya ampe lupa belum bayar angkot, belibet riweuh sama bawaan, pas bayar uangnya kurang lagih. Kan berlapis lapis yah malunya.

Lunas bayar angkot, kami putuskan buat makan siang di warung nasi seberang jalan. Lupa judul warungnya apa, pokoknya sambel tempenya enyak! Kering dan tahan lama, wajib lah buat dibawa naik ke atas.

Perut kenyang, namun hati terhenyak. Dari Mang ojek yang nungguin kami di depan, didapat informasi ternyata harga tiket masuk ke Kawasan Gunung Papandayan baru aja naik jadi Rp. 65.000. Walau begitu, ada alternatif jalur yang baru dibuka sama warga di kawasan Perhutani, harga masuknya lebih terjangkau Rp 20.000. Fix! Berhubung kita anaknya hemat, cermat, dan bersahaja. Diputuskanlah buat mendaki Papandayan lewat jalur yang baru.

Dan jalan ke basecampnya gak ada pilihan lain selain naik ojek. Setelah tawar-menawar, didapatlah harga Rp 30.000 buat naik ke basecamp baru. Setiba di basecamp baru, ternyata gak ada guide buat nganter sampe Pondok Salada. Kita bisa aja sih masuk, tapi berhubung jalurnya baru dan ada di kawasan Perhutani, Aa nya jadi khawatir takut kita kesasar.

Gapapalah bayar mahal, daripada gak bisa balik. Akhirnya kita mulai perjalanan dari jalur lama, Camp David. Inikah namanya jebakan kapitalis?

(H1) 14.45 SIANG

Dari pantat nempel ke jok motor, siap-siap aja dicurhatin Mang Ojek sepanjang perjalanan. Panjang banget lah curhatannya, intinya kenaikan tiket masuk ke Papandayan berdampak kepada penurunan drastis jumlah wisatawan yang pergi ke sana. Dan imbasnya? Mamang ojek jarang narik, penghasilan bulanan berkurang, anak istri jadi korban. Inilah efek yang gak dipikirkan sama kapitalis macem PT. XXX #gaksebutnama #pokoknyagitu #eaaaaamulaikiri

Melewati palang tiket masuk, untuk camping semalam plus hiking kita diwajibkan membayar masing-masing Rp 55.000. Itu harga weekday, kalo weekend jadi naik 10 rebu. masih untung lah punya muka pribumi, kalo bule harganya bisa lima kali lipat demi untuk naik Papandayan doang.

Nah, di basecamp ini gak ditemui kamar mandi atau toilet, meski ada tempat buat ganti baju sama nitip barang. Tapi jangan khawatir, sepanjang jalur pendakian banyak kok toilet umum buat tempat pipis, mandi, atau ganti baju. Pas repacking di basecamp ini, kita dikasih selembar formulir buat laporan ke tiap tiap pos selama perjalanan. Pokoknya dari Camp Davis sampe Pondok Salada terhitung ada 10 pos security. Meskipun kita gak harus lapor ke setiap pos, tapi kalo nyasar atau ada keadaan darurat banyak Aa Aa yang dapat diandalkan di atas sanah.

Kelar semua urusan administrasi, dengan ucapan bismillahirrohmanirrohim, dimulailah pendakian ini.

gubukcerito.blogspot.com
kurang lebih, begitulah bentuk rutenyah.
(H1) 15.30 SORE

Checkpoint pertama adalah area Kawah Papandayan. Jalannya masih landai, terbentuk dari batu kapur putih putih, dan sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan kebul kawah secara close up. Sangking deketnya, bau belerang nyekgrak gak kira-kira ke idung. Si partner yang sensitivitas (dengan ve) penciumannya tajem, malah engap (dengan pe) di area ini. Bukan awal pendakian yang baik memang untuk dia. Syukurlah saya sih gak ampe bermasalah, tapi tetep aja wajib pake masker tiap lewat ke sini.

Setelah tanjakan entah ke berapa, mulai ditemui vegetasi hijau-hijau sepanjang jalan, kabut mulai menebal, tanah yang dipijak juga mulai berubah. Tapi ga usah khawatir ilang arah, soalnya kita tinggal nunduk ngikutin jejak ban yang biasa lalu-lalang di rute tersebut.

Pokoknya, selesai kawah, kita ketemu persimpangan kalo lurus ke Gober Hoet kalo belok kiri ke Hutan Mati. Dan kita ambil rute lurus.

(H1) 16.35 SORE

Dari vegetasi hijau tadi, rutenya mulai nambah nanjak nanjak nanjak, kayak harga rupiah terhadap dolar. Dan setelah mengingat-ingat lagi, salah satu hal yang paling essensial buat saya selama pendakian adalah tumpuan tangan. Bahasa arsitekturalnya mah railing kali yah. Tapi kan kalo di gunung mana ada yang sepanjang tanjakan nanem besi teralis. Jadi andalan saya ya pepohonan berkayu keras di kiri-kanan, dan itu tersedia di sepanjang jalur menuju Gober Hoet.

Kayaknya karena permulaan yang penuh bau belerang dan kondisinya kurang fit juga efek sepatu baru, si partner tenaganya banyak terkuras di area ini. Kebanyakan ngajak istirahat (meskipun saya yang lebih sering tiba-tiba berenti sih, ehe). Untungnya, trek ini masih punya tanah datar tiap beberapa meter. Ya kalopun engga, kita bisa kok senderan ke batang pohon keras sepanjang jalan. (Yang mana, sebagian malah ditebang. Elah, PT XXX #masihajadisensor)

Selepas dari rute hutan yang mirip sama settingnya felem Into the Woods (2015), kita ketemu sama satu jalan gede ke arah kanan. Ikutin aja terus, emang sih jalurnya agak muter, tapi ini adalah jalur terlandai untuk mencapai Gober Hoet.

(H1) 17.15 SORE

Setelah ngikutin jalan besar tadi, kita ketemu sama sekumpulan warung terpal dengan tenda khas warna biru. Ternyata area itu penanda persimpangan, kalo ke kiri ke Pondok Salada, lurus ke Pangalengan (Bandung), serong kanan ke Tegal Panjang, belok kiri ke Gober Hoet.

Sebenernya Gober Hoet adalah lokasi yang menarik buat berkemah, banyak warung dan dekat dengan posisi sunrise. Tapi berhubung prioritas kami buat pedekate sama sumber air, maka dipilihlah Pondok Salada sebagai lokasi bikin tenda. Emang sih di sana ada isu babi hutan, tapi ada banyak kok ranger dan anjing penjaga yang siap mengusir kawanan oink oink ini (emmmmmm, gak terdengar seimut itu sih).

(H1) 18.00 SORE

Menjelang gelap, tenda kami sudah terpasang di Pondok Salada. Jangan lupa, setiba di Pondok Salada lapor dulu sama petugasnya di pos security pake formulir yang tadi, biar dikasih tempat buat nginep. Ehe.

Setelah tempat bermalam sudah siap, kita langsung buka bungkusan nasi plus sambel tempe dari warung-yang-lupa-judulnya sebagai makan malam. Sebenernya di sini banyak warung kok kalo misalnya sampe atas kami kehabisan bekal. Tapi berhubung hati ini sudah terpaut sama sambel tempe barusan, ya apalah daya aku yang lemah ini.

Abis makan, gelar sleeping bag, jalan-jalan ambil foto langit yang gagal gara-gara kebanyakan salah fokes, lanjut tidur demi esok yang lebih baik.

p.s. gelar sleeping bag.

(H2) 03.00 PAGI

Kebangun gara-gara kedinginan dan pingin pipis. Ternyata di luar kabut tebel banget. Jadi setelah menyelesaikan urusan ke belakang, si partner menyalakan kompor di dalam tenda (saya ulang, menyalakan-kompor-di-dalam-tenda. iya, KOMPOR, kompor : benda yang bisa mengeluarkan api yang lebih besar dari korek, versi jinak dari flamethrower). Sebenarnya, saya peduli dengan keselamatan nyawa dan tenda sewaan, tapi di sisi lain saya makin ga peduli soalnya ujung kaki udah bener-bener kedinginan.

Bodo amat.

Abis tenda agak angetan, kita bobok lagi.

p.s. ada suatu insiden coklat tumpah di sini. tapi sungguh, di momen seperti ini ingatlah kata kata pak ustad : sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang pemaaf. iya kan? heemh. #nganggukmanjah

(H2) 05.00 PAGI

Rekomendasi terbaik untuk menikmati terbitnya matahari di Papandayan adalah dari Gober Hoet. Syukurlah, pas bangun kabut udah turun semua. Jadi kita balik lagi ke rute kemarin untuk kemudian lurus menuju ke sana. Pas nyampe lokasi, ternyata udah rame banyak wisatawan lokal ataupun asing yang menyapa matahari pagi. Pemandangannya? Nuff said, BAGHOES BANGET.

Puas foto-foto, kita penasaran sama lanjutannya jalur Gober Hoet. Pas kita ikutin terus, ternyata mentoknya tebing penuh pepohonan. Yawdah, balik kanan puter arah deh.


(H2) 06.45 PAGI

Waktunya masak! Berhubung di deket tenda kita ada satu warung kosong yang ga kepake, jadi kita nebeng masak sama sarapan di sana deh. Sebenernya kita bisa aja sih jajan sarapan ke warung yang buka, tapikan sense of survivalnya jadi gak kerasa. #aelah #makanannyalupagadifoto #pokoknyagitudeh. Sehabis makan, kita langsung beberes buat turun gunung via Hutan Mati.

Belum berjodoh sama Tegal Alun, Tegal Panjang, apalagi Puncak. Semoga kita bisa berjumpa di pendakian yang selanjutnya yah.

p.s. pengetahuan umum bagi wanita adalah cowok yang bisa masak itu seksi, tapi cowok yang sukarela cuci piring abis makan itu jauh lebih seksi. apalagi kalo pemaaf. iya kan? heemh. #nganggukmanjahlagih

(H2) 09.00 PAGI

Setelah berdoa, kita mulai turun gunung lewat Hutan Mati. Di sini durasi banyak tersita buat foto-foto, soalnya pemandangan Hutan Mati bener-bener beyond expectation. Serasa ada di dalem novelnya C.S. Lewis.

Setelah melewati Hutan Mati, trek turunannya bakal sangat berpasir, penuh batu, dan gersang. Gak banyak pohon yang bisa dijadiin tumpuan. Untungnya pegangan tangan sama partner sih, jadi ada tempat untuk bertumpu. #kedipinmanja #sinihkasihsemangatdulu. Dan gak kerasa, trek ini lebih pendek daripada trek pas berangkat sih, walau begitu lebih curam, jadi tep mesti ekstra hati-hati buat ngelewatinnya.

Dan sesampainya di Camp David udah ada mang Ojek menanti penumpang. Yaudah, tariklah kita untuk pulang kembali ke rumah, Mang. Berangkat!

_______________________________________________________________________


Rekap Budget :

 Bus ke Simpang KHZ Mustofa
   5.000
 Angkot ke Singaparna
 10.000
 Bus Karunia Bakti ke Garut
 20.000
 Angkot ke Maktal
   4.000
 Angkot ke Cisurupan
 15.000
 Beli makan di Warung-Tak-Berjudul
 20.000 (makan di tempat, plus bungkusan)
 Ojek ke Camp David
 30.000 (pinter-pinter nawar aja)
 Tiket Masuk TWA G.Papandayan
 55.000 ( weekend 65k, hiking doang 25k)

TOTAL ; Rp 159.000,-
(ini harga per orang loh ya)

_______________________________________________________________________


Setelah saya menulis hingga akhir, saya kembali lagi ke pertanyaan Sarah Sechan di awal.
"Hal apa sih yang kalian syukuri seminggu ke belakang, hingga kalian semangat menghadapi hari Senin?"
Bersumbu dengan gunung memang menyenangkan, tapi saya bersyukur bisa menghabiskan waktu dan berbagi pengalaman sama kamu. Mungkin gak semuanya keren, banyak hal di luar rencana, dan insiden-insiden yang bikin ilfil di antaranya. But still, it's a moment to treasure.

Terima kasih sudah bersedia melakukan perjalanan bersama. I ink you!


p.s. Semua dokumentasi hilang karena kesalahan install ulang. Wahai umat millenial pengguna fasilitas serba digital, ingatlah selalu untuk membuat backup data dimanapun kalian berada. Sekian.

In Every "What If?"

In the future, I hope i can just laugh at our memories. Look at the this adorable stupid guy who dumped a batman girl with his ignorance!


Ship has sailed. No turn back.

But still, good memories.

p.s. oh verdomme you Rick! You only have one job!

2016/08/21

Eh, Pakabar?

www.aninvitinghome.com
Jumlah jari saya, yang kiri dan kanan~

Dan setelah menghilang satu tahun kurang dua bulan, kembalilah saya menulis post baru di blog ini. Pemalas? Tentu. Gak konsisten? Dengan bangga. Punya pembelaan? Ya, hidup ini sungguh terlalu dinamis untuk ditulis. Elah, alesan.


Pokoknya dalam medio November 2015 hingga Agustus 2016, banyak hal dan penambahan, pengurangan, dan pengubahan yang saya alami. Jika dijadikan daftar, maka :


Penambahan :

  1. Gelar di belakang nama. Alhamdullilah. (ambil kanebo. elap airmata, darah, dan nanah)
  2. Ponakan. Tapi bukan ponakan langsung sih. Tepatnya, anak sepupu. (tolong akomodir ateu-ateu ini agar segera manjadi ateu beneran ya, ekhem. #kodekeras)
  3. Koleksi buku nonfiksi (well, namanya juga pengangguran jobseeker)
  4. Jumlah gebetan. Tapi gak jadi pacar. (that makes Ariana Grande and Didi Kempot immortally life in my playlist)
Pengurangan :
  1. Angka di ujung buku tabungan. (tentu semakin menipis, sebagai freelance saya emang belum pinter memilah uang pribadi dan uang lainnya. plus, masih kebanyakan hura-hura di onlenshop dibanding itikaf di masjid. #iniurusanserius )
  2. Interaksi sosial. (pekerjaan tentu membawamu kepada orang baru. tapi interaksi yang kalian bangun tentu berorientasi pada kebutuhan proyek, bukan kebutuhan sosial. gini ya rasanya jadi orang dewasa?)
  3. Pemakaian air. (paska cabut dari studio, event formal yang harus saya kunjungi tidak sebanyak dahulu kala. hal ini berkorelasi positif kepada frekuensi mandi dan volume air yang terpakai di dalamnya. ini baru namanya cinta sama bumi!)
  4. Selera humor. (apakah anda merasakannya pada kalimat-kalimat di atas?)
Pengubahan :
  1. Status ( metamorfosis rahmi adalah : mahasiswa   budak TA  wisudawan  → budak dosen → freelance  budak klien  jobseeker  budak cinta)
  2. Domisili ( imbas dari poin pertama tentus aja ketidakjelasan domisili. badan ada di mana, kesempatan ada dimana, hati dipegang sama siapa #euh)
  3. Berat badan ( yang ini sengaja tidak terklasifikasi pada pengurangan atau penambahan, yah pokoknya mah berubah ajalah yah. fairplay!)
  4. Kepercayaan terhadap bentuk bumi (semua orang pasti beberapa detik pernah mengalaminya. sangat 2016!)
Dua belas hal ya? Kayaknya lebih banyak dari itu sih. Tapi berhubung yang diinget cuman sekian jadi yaudahlah ya. Siapa juga yang mau baca. Hahahahahahasediheuyhahahahaha. Paling engga saya punya milestone sederhana buat nginget-nginget ngapain ajasih 10 bulan ke belakang ini. Selayaknya doa ustad, semoga banyak manfaatnya dibanding mudhorotnya.

Sekian post kali ini. Sampai ketemu lagi entah kapan tauk. Uw!

2015/11/17

Faktanya Adalah......


  1. Meski tidak memiliki dampak langsung, ketidakjujuran kolektif tetap menimbulkan kekecewaan terpendam dalam batin yang diekspresian melalui helaan kecil berbunyi "huft".
  2. Lebih banyak status yang diikuti oleh frase "huft" jika hal tersebut berubah menjadi kelaziman di secara umum. Media sosial akan semakin monoton oleh empat huruf di atas.
  3. Tak banyak yang bisa memperbaiki ketidakjujuran kolektif karena minornya aspirasi perubahan, dan sayupnya suara "huft" di masyarakat
  4. Ini membuktikan sulitnya menegakkan slogan PP Muhammadiyah di dunia nyata, yakni "amar makruf, nahi munkar". Tegakkan kebenaran, jauhi kejahatan. Huft.
  5. Pantesan aja Tuhan sayang sama orang yang bertaqwa dan lagi gak cuman jago soal ibadah. Errrr huft?
  6. Intinya, kecewa itu sederhana yah? HUFT.
  7. Makannya, jangan terlalu banyak menaruh harapan kepada sesama manusia. Berharaplah hanya kepada Tuhan Yang Maha Menepati. Tanpa huft :)
  8. Perkecil jumlah helaan huft, karena duck face udah gak jaman lagi dipake gaya selfie.

2015/11/08

Sindikat Berbahaya - Mama Minta Pulsa Mantu

ha!
sumber : http://jakarta.coconuts.co/
Di tengah khidmatnya santap pagi di sebuah warung nasi sekitaran kosan, tak sengaja saya membaca berita bahwa Polda Metro Jaya berhasil membekuk sindikat penipuan sms mama minta pulsa di awal musim hujan yang datangnya telat kemarin. Sebagai bagian dari masyarakat Generasi Y yang berkebutuhan pokok sandang, pangan, papan, dan smartphone – yang harus terkoneksi sempurna dengan internet, biar bisa snapchat tentu saja – aktivitas yang dilakukan oleh sindikat ini bukan barang baru di dalam lingkungan pergaulan saya. Tahun 2010an awal, sms mama minta pulsa bolehlah dianggap menggegerkan khalayak ramai dengan modus operandinya mengirimkan sms blast dengan kedok berpura-pura sebagai anggota keluarga (biasanya mengambil peran sebagai “Mama”) yang – entah kenapa – berurusan sama kepolisian atau mengalami kecelakaan dan pada saat yang bersamaan – entah kenapa lagi, selalu – kehabisan pulsa. Kemudian dengan kedoknya, sindikat ini meminta dikirimi sejumlah pulsa untuk berkomunikasi dengan si korban. Ya barang tentu setelah pulsa terkirim si “Mama” gak bakalan pernah ngehubungin yang ngirimi pulsa karena modus di atas adalah contoh tipu tipu skala kecil. Buat skala menengahnya mereka berani tipu tipu pake pengumuman undian, dan setelah korban terpancing – atau lebih tepatnya, tertipu, terbohongi, juga terdustai (bukan curhat) – dengan pengumuman palsu, pelaku membimbing korban ke atm terdekat buat mencet-mencetin nomor yang tanpa disadari akan mentransfer sejumlah uang dari rekening korban ke rekening pelaku. Memang sekilas korban yang dengan mudahnya manut  nampak tolol di mata kita semua, tapi bayangkan apa yang akan dilakukan oleh sekian persen warga negara kita yang tergolong berekonomi lemah dengan tingkat pendidikan pemikiran (tingginya strata sekolah bukan penentu kecerdasan seseorang) yang tidak begitu tinggi saat mendapat iming-iming hadian dalam jumlah besar tanpa melakukan banyak usaha? Yaelah, siapa sih di muka bumi ini yang gamau harta, tahta, maupun Raisa dengan modal tenaga jari buat mencet kipet atm doang?

Namun seiring berjalannya waktu, bergantinya hari, dan bertambahnya season tukang bubur naik haji. Si pengirim sms mama minta pulsa ini gak mengalami peningkatan kreativitas dalam mengembangkan sistem penipuan ataupun dalam kepenulisan konten sms. Hei, kalo ada orang yang dalam seminggu dapet undian sebanyak 15 kali dengan format yang sama dan tetap percaya, mari bakar departemen pendidikan nasional karena gagal dalam menjalankan misi negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Untung dewasa ini masyarakat  sadar kalo sms macem gini jelas lah yaw penipuan. Kalo dapet, jangankan dibales, dilirik aja kagak. Ya paling kalo ada waktu luang tipu balik lah sama yang ngirim sms, mayan hiburan di kala senggang. Intinya? Selamat dan sukses teruntuk Kementrian Pendidikan Nasional, you did a good job! *tepok tangan sodara-sodara*. Lucunya adalah, pihak kepolisian butuh waktu bertahun-tahun buat nangkep dalang dari sindikat penyebaran sms ini, pada saat masyakarat udah gek peduli dan gak bisa dibohongi lagi. Lha, kemarin-kemarin pada kemana aja, bos?

Karena semua tulisan di blog ini adalah curahan egosentris lagi narsis, mari balik lagi sama keresahan pribadi yang dilalui oleh penulis. Sebagai mahasiswa yang menjalani semester akhir, daripada sindikat penipuan sms mama minta pulsa yang kita bahas di dua paragraf awal, alangkah lebih meresahkan aktivitas dari sindikat mama minta mantu yang sudah meneror saya dari dua semester lalu. Sindikat ini terdiri dari dua orang suami-istri yang semenjak bertahun-tahun yang lalu berkomplot untuk menambah populasi manusia di dunia sehingga muncullah saya dan dua orang saudara lainnya. Belakangan, sindikat ini melakukan pergerakan bawah tanah yang secara halus senantiasa meneror korban (yaitu saya) dengan pertanyaan “perasaan kalo kamu makan di luar rame-rame terus gak pernah berdua?”. Kian hari, teror semakin berkembang menjadi, “kok, malem minggu di kosan aja? Emang gak ada yang jemput kamu apa?”. Dan dua minggu yang lalu mereka muncul dengan lima kata, “kapan bawa pacar ke rumah?”. Ingin rasanya lapor polisi, apa daya kita semua berada dalam ikatan legal bernama keluarga.

Rasanya pingin naturalisasi ke negara ini.
sumber twitter.com/QDJY
Sangat mungkin jika saya abai dengan teror dari mereka, secara perlahan mereka akan memperkenalkan saya dengan seorang asing yang disinyalir kerabat dari salah satu sahabat ataupun kolega kerja. Sehingga – tanpa saya sadari – misi utama  merubah relasi dari rekan menjadi besan berbuah sukses besar. Bukan karena antipati terhadap nawaitu yang baik dari misi sindikat ini, akan tetapi saya cukup alergi jika harus menjalin hubungan cinta dan membangun masa depan berdua dengan pria asing dan jalan pikirannya gak bisa diikuti.

Sungguh, saya telah malakukan berbagai upaya agar aksi dari sindikat ini tidak semakin membesar dan menimbulkan mara bahaya. Target saya adalah mendapatkan pasangan sebelum dilekatkan dengan predikat STMJ (Sudah ST, Masih Jomblo) oleh anggota sindikat tersebut. Jika dijadikan daftar, maka upaya-upaya yang telah saya lakukan adalah:

  1. Ikut komunitas biar bertemu dengan lingkungan baru dan memperluas pergaulan – klise, tapi gak ada salahnya kan untuk dicoba? – (Failed. Saya terlalu banyak nananina yeyeye lalala, malah menyebarkan aura persahabatan yang kuat kepada setiap makhluk di komunitas. Intinya sih, saya gagal aja membangun citra wanita anggun yang hemat, cerdas, bersahaja, juga mengamalkan poin-poin dasa dharma lainnya di mata mereka)
  2. Minta dikenalin sama temennya-temen – karena tiap hari nonton spongebob, jadi saya percaya “Teman adalah kekuatan!” – (Failed. Upaya ini emang belum terjadi. Udah keburu parno duluan sih sama selera dan pilihannya si temen. Lagian, takut keberadaan saya ngerusak hubungan pertemanan mereka juga sih. Diplomatis abis ye alesannya. )
  3. Download tinder – Iya, saya-download-tinder. Monggo untuk ketawa sepuasnya – (Failed. Nginstall app ini adalah salah satu tindakan yang paling saya sesali. Upgraded versionnya makan memori banyak. Jadi mau gak mau app ini mesti saya uninstall sih biar rutinitas nonton Ghibli di layar hp tidak terusik dan tetap asik.)
  4. Daftar di setipe.com – apakah situs ini akan mendatangkan sesosok manusia seganteng Christian Sugiono sang penciptanya? – (Failed. Menyerah di tengah karena lelah ngisi kuisioner yang jumlah soalnya sebanyak lapisan wafer tango, bedanya kalo tango itu enak, kalo yang ini enek)
  5. Bikin proposal taaruf – mahasiswa satu universitas pasti pernah dong, dapet jarkoman komunitas-rindu-apakah yang membahana itu?– (Meh. Just meh.)

Capek, bosen, males, ilfil, dan takut adalah lima perasaan yang lewat di pikiran saya setiap mendapatkan teror dari sindikat mama minta mantu. Capek, harus menjalani satu hubungan ke hubungan lain tanpa adanya keseriusan. Bosen, setiap curhat perkaranya itu-itu saja dan solusinya berputar-putar di situ situ saja. Males, harus mengenal lagi orang baru, mempelajari setiap sudut kehidupannya, ngasih perhatian untuk setiap kebutuhannya, tapi gak jelas ujungnya seperti apa. Ilfil, melihat diri sendiri yang kualitasnya belum bisa seberapa untuk dijadikan pasangan. Takut, takut harus patah hati lagi berkali-kali dan menyesal di kemudian hari.

Setelah berintrospeksi, ternyata semua perasaan negatif tadi berawal dari diri saya sendiri. Memang sudah puluhan artikel tentang self-development sudah saya baca, berbagai episode dari tayangan motivasi diri sudah saya tonton, nasihat tentang memantaskan diri pun entah berapa ratus kali sudah saya dengar. Walaupun begitu, bisa jadi pemahaman saya mengenai diri sendiri masih sangat kurang. Tapi intinya, saya belum siap, belum layak, dan belum bisa untuk menaruh perasaan cinta pada orang lain. Bagai masyarakat yang udah kebal sama sms mama minta pulsa, begitupun perasaan saya yang gak bisa dibohongi sekuat apapun saat berusaha untuk jatuh cinta. Mungkin terdengar alay, tapi begitulah kenyataanya.

Seorang kawan bernah bilang, kalo saya belum berdamai dengan diri saya sendiri. Katanya, saya masih rempong tugas akhir lah, khawatir soal pilihan karier lah, bingung sama asuransi kesehatan dan skenario KPR di masa depan lah, trauma sama pengalaman yang lalu-lalu lah #eh. Dan secara haqul yaqien beliau memvonis saya menderita Quarter Life Crisis. Apapun itu, bolehlah semua analisisnya kita diterima. Berhubung si beliau ini bukan jomblo lagi sih ya. #bedakasta #akuparia

Saya tidak abai dengan gempuran dari sindikat mama minta mantu. Namun, untuk sementara, satu-satunya cara membekuk komplotan ini adalah dengan memberikan pengertian bahwa anak mereka mungkin butuh waktu untuk cari mantu, biar kalian bisa gendong cucu.


Hm, pantes ya polisi butuh waktu tahunan buat ngeringkus sindikat penipu.

2015/04/27

Mbak Angkatan Tua

Hallo!

Long long long time no see...

Sebenernya postingan kali ini gak direncanakan sih. Tapi ya biar blog ini gak keliatan terlantar-terlantar amat, mari saya ceritakan sekelumit kisah hidup Rahmi Afuza di semester 8 (dibaca de-la-pan aka. tahun ke empat....)

Nah, seperti mahasiswa indonesa pada umumnya, semester 8 merupakan semester akhir dimana kami - anak-anak jurusan arsitektur- pun dibikin pecah kepalanya sama tugas akhir demi meraih dua alfabet tambahan gelar di ujung nama (S.T dibaca esteh). Sebelum pisah dan berpencar kemana-mana, alangkah unyunya jika kebersamaan ini (ceilah, setel lagu kemesraan ini #lawas) dihimpun dalam satu buku tahunan. Karena kali ini konsepnya monokrom, makannya pas pemotretan orang-orang banyak yang berpenampilan kayak mau berangkat ngelayat (contohnya saya....). Di bawah ini beberapa foto yang berhasil lulus uji tes di BPOM, makannya gak banyak, tapi semoga menghibur.

Foto bareng pacarnya Mas Dani.
Mas, kalo bimbingan ke dosen pacarnya jangan dibawa ya. Takutnya nanti yang di acc bukan skripsinya, malah pendamping wisudanya. Soalnya udah fix, cantik, dan gak usah direvisi.
#akuhanyalahbubukindomiketiupkipasangin 

Wefie sama owner @kikysway.
Cek ig kita sis! Ada jilbab murmer berkwalitas lho!
#malahpromosi #berjuangcariuang #sekalianFOTD

Yang ini foto mahal seharga tiket PP kereta Jakarta-Jogja nih.
Soalnya yang di tengah kan ceritanya udah jadi penduduk Jekardah.
#wanitakariribukota #tapibelumbisapakegueelu #pigimane
 Sekian reportase hari ini, untuk foto-foto lainnya mari nantikan postingan berikutnya~

2015/01/05

Berbincang dengan Senja

“Asal kamu tahu, langit berubah temaram  dan mulai bermunculan bintang saat kamu mulai datang . Kenapa kamu rela hanya menjadi antara dari terangnya siang dan pekatnya malam?”

“Apa masalahmu, wahai makhluk yang hanya bisa mengalami?”

“Tidakkah kau ingin? Ingin lebih lama menghiasi langit, lebih lama menyisir angin, lebih lama berbincang disini?”

“Hahahaha, sebegitu takutkah kau dengan malam dan silau dengan siang?”

“Benci. Aku ingin kita berdua saja yang ada di sini. Bisakah?.”

“Kau lebih buruk dari yang kuduga.”

“Apa maksudnya?”

“Kuakhiri siang dan mempersembahkan malam agar kau sadar.
 Kau tidak hanya bisa mengalami. Tapi juga sedang berevolusi.”


Si makhluk tepekur. Setelah sadar, segera dia nyalakan lampu teras depan agar tak dianggap malas oleh tetangga karena hanya rumahnya saja yang gelap gulita.